Thursday, December 22, 2011

The Change Up

Malam ini habis nonton "The Change Up", sebuah film yang mengisahkan dua orang pria yang bertukar kehidupan. Seorang pria berkeluarga dengan karir yang cemerlang dan tiga orang anak, bertukar kehidupan dengan seorang pria lajang yang kerjaannya hura-hura dan ala bujangan. Sebuah film komedi, tapi tiba-tiba rasanya hatiku sakit sekali selesai menonton film itu.

Lho koq bisa?

Di film itu, beberapa pesan moralnya sangat menohok. Salah satunya adalah bagaimana perasaanmu mendengar jawaban yang jujur dari orang-orang yang Anda cintai di sekeliling Anda. Tentu saja semua orang di dunia ini tidak suka menyakiti perasaan orang lain dengan tidak mengatakan yang sebenarnya (paling tidak di hadapan orang tersebut). Namun bagaimana perasaan Anda mendengar kata-kata jujur mengenai diri Anda yang tidak akan pernah disampaikan secara jujur kepada Anda.

Terus terang, ketika saya menonton film itu, saya benar-benar dianalogikan seperti tokoh "Mitch" dalam film itu. Seorang pria lajang yang suka hura-hura, namun begitu iri dengan kehidupan sahabatnya Dave yang sukses dan memiliki keluarga yang bahagia.

Yap, saya masih melajang dan saya begitu iri dengan teman-teman saya yang rata-rata sudah punya pasangan.

Saat saya menulis ini, hati saya masih terus menuduh saya sebagai seorang "Mitch". Seseorang yang kelihatan begitu gembira, tapi di balik dirinya tersimpan kegetiran dan rasa kesepian. Seseorang yang dianggap sebagai seorang quitter atau pecundang. Seseorang yang tidak pernah menyelesaikan semuanya hingga akhir dan selalu berhenti di tengah jalan.

Sebuah rasa yang sangat tidak enak mendekam di dadaku. Di saat teman-teman saya yang lain sudah punya pasangan, pekerjaan yang sukses dan kehidupan yang mapan, saya masih saja begini-begini saja.

Ya Tuhan, kapankah nasib saya akan diubahkan? Kapankah kehidupan yang seperti mimpi buruk ini akan berakhir? Saya tidak ingin mendapatkan kehidupan orang lain, tapi saya ingin mengubah hidup saya menjadi lebih bermakna. Hari-hari ini begitu kesepian. Di balik keceriaan yang saya tunjukkan ada rasa menjadi pecundang, minder dan takut. Tapi saya tak pernah menunjukkannya.

Akankah hidup saya berakhir happy ending seperti Mitch?