Pernahkah ketika kamu mencintai seseorang, menjalin sebuah hubungan dengannya, dan lalu yang terjadi adalah: kamu lebih sering disakiti dan dikecewakan daripada bahagia? Apa yang akan kamu lakukan ketika perasaan sakit itu datang menghampiri?
Saya menyukai dia. Dan kami pun berkomitmen untuk menjadi kakak-adik hingga selamanya. Saya tidak mungkin menjadi seorang pacar bagi dia. Ya, dia sudah mempunyai sebuah keluarga; dengan istri dan anak-anak tercinta. Saya hanya seorang penderita brother-complex yang mendambakan kehadiran dan kasih sayang seorang kakak laki-laki yang mampu menjaga dan memberikan perhatian kepadaku.
Bagi dia, saya adalah proyeksi kehidupan "kedua" di mana dia bisa dengan cerdas memberi sekat dan mengatur kehidupannya yang "pertama" dan "kedua" agar tidak bercampur. Dia menyayangiku, ya saya tahu dia menyayangiku. Paling tidak hingga saat ini ia masih menyayangiku. Tapi sampai kapan? Entahlah.
Berhubungan dengan dia seperti heroin: nikmat, membuat ketagihan, tapi terlarang.
Saya tahu dengan jelas, sangat jelas malah, kalau hubungan kami adalah sesuatu yang terlarang (secara agamawi dan duniawi). Tapi bagaikan kecanduan heroin, kami tidak bisa menarik diri dari hubungan ini. Kami membiarkannya mengalir, cinta yang makin lama makin bertumbuh, dan kami tidak merasa ini sesuatu yang berbahaya.
Setiap kali bercinta dengannya, semakin membuat saya tertarik kepadanya, masuk ke bagian yang lebih dalam dari hatiku. Saya bahkan mempercayainya, bahkan terlalu percaya kepadanya dan membiarkan dia mengakses daerah tabu dalam diriku. Saya mempercayainya. Seperti heroin, makin lama makin gila. Makin lama makin dalam, makin lama makin ketergantungan.
Tapi di balik setiap kebahagiaan yang kualami dengannya, selalu ada satu perasaan kekecewaan yang timbul. Dia seorang pria yang tidak berani menyuarakan pendapatnya. Hal tersebut membuat dia sering melanggar janji denganku, menurut pada istrinya, dan membuat dia tampak lemah. Sehingga setiap kali saya-lah yang harus mengalami perasaan sakit dan kecewa ini.
Seringkali saya bertanya-tanya pada diriku sendiri: Apakah dia sungguh menyayangiku, atau hanya kasihan kepadaku?
Apakah heroin ini legal?
Sampai berapa lama cinta dia kepadaku akan bertahan?

