Sunday, February 5, 2012

Karena Saya Percaya...

Kejujuran diri adalah sebuah tindakan yang sangat penting dalam hidup. Dengan jujur pada diri sendiri, kita tidak akan mengkhianati hati nurani kita, tidak akan terus-terusan dirundung perasaan bersalah, dan kita akan bisa menerima diri kita apa adanya: suatu perasaan yang melegakan.

Jujur, selama ini saya adalah orang yang mengkhianati perasaan diri. Saya selalu menyangkal siapa diri saya sebenarnya, apa yang saya sukai dan saya selalu menampilkan yang baik-baik saja dalam keseharianku. Topeng yang saya pakai sangat tebal, sehingga setiap orang tertipu dengan penampilan luar saya.

Penemuan Jati Diri

Seperti tulisan kisah saya sebelumnya, saya berada di daerah abu-abu; antara putih dan hitam; antara benar dan salah. Saya jatuh cinta pada seseorang yang salah, seseorang yang sudah mempunyai keluarga, pasangan dan bahkan anak-anak yang lucu. Masalahnya adalah, pemuda itu merespon. Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak akan bisa diungkapkan dengan kata-kata, sulit ditolak dan akan sangat menyakitkan jika kita menyangkalnya.

Suatu hari saya diharuskan untuk memilih: memilih untuk menemaninya keluar kota atau mengatakan tidak. Saya tahu, keputusan saya untuk pergi dengannya atau tidak akan mempegaruhi sisa hidupku. Bila saya pergi, berarti saya siap dengan konsekuensi di belakang akan semua masalah apapun yang akan terjadi di kemudian hari. Bila tidak, maka saya telah mengkhianati diri saya dan bisa-bisa saya menjadi gila!

Banyak pertimbangan yang berseliweran dalam pikiranku. Keputusan saya menentukan hidupku selanjutnya. Berbagai konsiderasi, pertimbangan dan sebagainya, tapi bayangan pemuda itu selalu menghantuiku setiap malam, membayangkan dia akan memelukku dengan erat dan mencurahkan kasihnya kepadaku, membayangkan ketika saya tidur di pelukan dadanya yang bidang. Sebuah pemikiran yang didasarkan pada nafsu! Celakanya lagi, saya suka.

Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi keluar kota bersamanya. Tidak lama, hanya tiga hari dan setelah itu dia akan kembali lagi ke keluarganya dan kami akan seperti orang asing lagi.

Seperti Novel

Dalam perjalanan kali ini, akhirnya segala fantasi dan hasrat bisa terwujud. Sebelumnya setiap malam saya selalu memikirkan betapa nyamannya dipeluk seorang pria gagah seperti dia: tinggi, tampan dan memiliki tubuh yang proporsional serta perut yang sixpack. Akhirnya mimpi dan fantasi itu menjadi kenyataan!

Dengan lembutnya ia membelaiku setiap malam dan memelukku dengan erat dan hangat, menyentuh tubuhku dengan jari-jarinya yang lembut, bahkan memberiku pijatan-pijatan eksotis ala novel-novel barat. Ketika ia menciumku, nafasnya yang segar selalu membuatku semakin terangsang dan naik. Terkadang ia menggerak-gerakkan kumisnya yang tipis di sekitar dadaku. Dunia seperti milik kami berdua. Kami berpelukan seusai bercinta dan seolah tidak mau meninggalkan satu sama lain.

Ya, saya tahu persis hal seperti ini akan terjadi ketika saya memutuskan untuk pergi dengannya. Dan, ya, saya tahu ini adalah sebuah tindakan yang akan sangat dikecam baik oleh manusia ataupun secara agamawi. Namun di akhir percintaan kami, saya memutuskan untuk lebih menjadi seperti seorang adik bagi dia ketimbang seorang pacar gelap. Dengan demikian, kami tidak ada hubungan khusus, tidak ada keterikatan satu sama lain karena status kakak-adik ini. Saya memanggilnya dengan sebutan "koko" (kakak, red).

Kembali

Ketika saya dan dia pulang, kami pun akhirnya mengenakan "topeng" kami kembali, menjadi teman yang biasa. Namun pikiran saya telah diracuni. Bagaikan tembakau atau ganja yang meresap ke otak, saya tidak bisa berhenti memikirkannya setiap saat! Ketika saya bangun, perasaan absurd menghinggapi diri saya karena saya tidak menemukan dia di sisiku. Setiap dialog yang kami lakukan di luar kota, satu per satu lalu-lalang dalam pikiran saya. Ya, saya tidak bisa menghilangkan pengaruh dia dari pikiranku.

Namun ada satu percakapan yang paling sering bergaung di telinga saya, sebuah percakapan yang kami lakukan di atas ranjang usai bercinta, "Mengapa adik percaya sama koko?" tanyanya. Dan jawaban saya yang sederhana kubisikkan penuh kemesraan di telinganya, "Karena saya percaya koko..."