Pernahkah ketika kamu mencintai seseorang, menjalin sebuah hubungan dengannya, dan lalu yang terjadi adalah: kamu lebih sering disakiti dan dikecewakan daripada bahagia? Apa yang akan kamu lakukan ketika perasaan sakit itu datang menghampiri?
Saya menyukai dia. Dan kami pun berkomitmen untuk menjadi kakak-adik hingga selamanya. Saya tidak mungkin menjadi seorang pacar bagi dia. Ya, dia sudah mempunyai sebuah keluarga; dengan istri dan anak-anak tercinta. Saya hanya seorang penderita brother-complex yang mendambakan kehadiran dan kasih sayang seorang kakak laki-laki yang mampu menjaga dan memberikan perhatian kepadaku.
Bagi dia, saya adalah proyeksi kehidupan "kedua" di mana dia bisa dengan cerdas memberi sekat dan mengatur kehidupannya yang "pertama" dan "kedua" agar tidak bercampur. Dia menyayangiku, ya saya tahu dia menyayangiku. Paling tidak hingga saat ini ia masih menyayangiku. Tapi sampai kapan? Entahlah.
Berhubungan dengan dia seperti heroin: nikmat, membuat ketagihan, tapi terlarang.
Saya tahu dengan jelas, sangat jelas malah, kalau hubungan kami adalah sesuatu yang terlarang (secara agamawi dan duniawi). Tapi bagaikan kecanduan heroin, kami tidak bisa menarik diri dari hubungan ini. Kami membiarkannya mengalir, cinta yang makin lama makin bertumbuh, dan kami tidak merasa ini sesuatu yang berbahaya.
Setiap kali bercinta dengannya, semakin membuat saya tertarik kepadanya, masuk ke bagian yang lebih dalam dari hatiku. Saya bahkan mempercayainya, bahkan terlalu percaya kepadanya dan membiarkan dia mengakses daerah tabu dalam diriku. Saya mempercayainya. Seperti heroin, makin lama makin gila. Makin lama makin dalam, makin lama makin ketergantungan.
Tapi di balik setiap kebahagiaan yang kualami dengannya, selalu ada satu perasaan kekecewaan yang timbul. Dia seorang pria yang tidak berani menyuarakan pendapatnya. Hal tersebut membuat dia sering melanggar janji denganku, menurut pada istrinya, dan membuat dia tampak lemah. Sehingga setiap kali saya-lah yang harus mengalami perasaan sakit dan kecewa ini.
Seringkali saya bertanya-tanya pada diriku sendiri: Apakah dia sungguh menyayangiku, atau hanya kasihan kepadaku?
Apakah heroin ini legal?
Sampai berapa lama cinta dia kepadaku akan bertahan?
Sunday, February 5, 2012
Karena Saya Percaya...
Kejujuran diri adalah sebuah tindakan yang sangat penting dalam hidup. Dengan jujur pada diri sendiri, kita tidak akan mengkhianati hati nurani kita, tidak akan terus-terusan dirundung perasaan bersalah, dan kita akan bisa menerima diri kita apa adanya: suatu perasaan yang melegakan.
Seperti tulisan kisah saya sebelumnya, saya berada di daerah abu-abu; antara putih dan hitam; antara benar dan salah. Saya jatuh cinta pada seseorang yang salah, seseorang yang sudah mempunyai keluarga, pasangan dan bahkan anak-anak yang lucu. Masalahnya adalah, pemuda itu merespon. Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak akan bisa diungkapkan dengan kata-kata, sulit ditolak dan akan sangat menyakitkan jika kita menyangkalnya.
Jujur, selama ini saya adalah orang yang mengkhianati perasaan diri. Saya selalu menyangkal siapa diri saya sebenarnya, apa yang saya sukai dan saya selalu menampilkan yang baik-baik saja dalam keseharianku. Topeng yang saya pakai sangat tebal, sehingga setiap orang tertipu dengan penampilan luar saya.
Penemuan Jati Diri
Suatu hari saya diharuskan untuk memilih: memilih untuk menemaninya keluar kota atau mengatakan tidak. Saya tahu, keputusan saya untuk pergi dengannya atau tidak akan mempegaruhi sisa hidupku. Bila saya pergi, berarti saya siap dengan konsekuensi di belakang akan semua masalah apapun yang akan terjadi di kemudian hari. Bila tidak, maka saya telah mengkhianati diri saya dan bisa-bisa saya menjadi gila!
Banyak pertimbangan yang berseliweran dalam pikiranku. Keputusan saya menentukan hidupku selanjutnya. Berbagai konsiderasi, pertimbangan dan sebagainya, tapi bayangan pemuda itu selalu menghantuiku setiap malam, membayangkan dia akan memelukku dengan erat dan mencurahkan kasihnya kepadaku, membayangkan ketika saya tidur di pelukan dadanya yang bidang. Sebuah pemikiran yang didasarkan pada nafsu! Celakanya lagi, saya suka.
Wednesday, January 18, 2012
Galau! Berada di Area Abu-abu
Sudah satu minggu ini hatiku galau ga karu-karuan. Bagaimana tidak? Kini saya berada di sebuah titik di mana diapit oleh dua titik yang saling berseberangan. Mengikuti perkataan hati nurani pun sangat sulit pada kondisi ini. Di satu sisi saya ingin, di sisi yang lain, itu dosa. Ya, saya berada di daerah abu-abu.
Daerah Hitam
Sisi hitam yang menarikku adalah saya kini jatuh cinta pada seorang yang salah. Pemuda itu berusia tiga puluhan, masih keren dan ganteng. Ketika pertama saya bertemu dengan dia, wow, rasanya saya begitu mengidolakan dia. Di usianya yang tiga puluhan dia masih terlihat bening, jantan, dengan otot-otot badannya yang terpahat indah, ganteng dan sangat gentleman. Saya sangat mengidolakan dia.
Dan beberapa minggu ini yang saya rasakan adalah suatu keanehan yang sangat menyenangkan. Saya merasakan pemuda ini sedang pdkt denganku. Ya, suatu cara yang dilakukan oleh seorang pria ketika mendekati pasangannya. Dia mulai bb aku setiap hari empat kali hanya menanyakan "Sedang apa?" atau "Lagi di mana?". Dan kalau tidak dijawab, dia seringkali marah. Mulanya saya pun menanggapinya dengan biasa. Karena pemuda itu terpaut usianya jauh di atasku, saya pun menghormatinya dengan membalasnya.
Tapi keanehan yang lain, dia pernah "bocor mulut" dengan mengatakan fantasi seks nya terhadap aku. Seringkali (kalau bukan setiap kali) bb dia selalu diakhiri dengan emoticon hug atau kiss kepadaku. Omg! Bayangkan bila seorang idolamu sedang pdkt denganmu. Seseorang yang mempunyai kepribadian yang baik, gentleman, dengan wajah yang rupawan, fisik yang sixpack sedang mendekatimu! Omg! Hard to resist!
Dan saya kira saya pun jatuh cinta padanya. Akan tetapi...
Daerah Hitam
Sisi hitam yang menarikku adalah saya kini jatuh cinta pada seorang yang salah. Pemuda itu berusia tiga puluhan, masih keren dan ganteng. Ketika pertama saya bertemu dengan dia, wow, rasanya saya begitu mengidolakan dia. Di usianya yang tiga puluhan dia masih terlihat bening, jantan, dengan otot-otot badannya yang terpahat indah, ganteng dan sangat gentleman. Saya sangat mengidolakan dia.
Dan beberapa minggu ini yang saya rasakan adalah suatu keanehan yang sangat menyenangkan. Saya merasakan pemuda ini sedang pdkt denganku. Ya, suatu cara yang dilakukan oleh seorang pria ketika mendekati pasangannya. Dia mulai bb aku setiap hari empat kali hanya menanyakan "Sedang apa?" atau "Lagi di mana?". Dan kalau tidak dijawab, dia seringkali marah. Mulanya saya pun menanggapinya dengan biasa. Karena pemuda itu terpaut usianya jauh di atasku, saya pun menghormatinya dengan membalasnya.
Tapi keanehan yang lain, dia pernah "bocor mulut" dengan mengatakan fantasi seks nya terhadap aku. Seringkali (kalau bukan setiap kali) bb dia selalu diakhiri dengan emoticon hug atau kiss kepadaku. Omg! Bayangkan bila seorang idolamu sedang pdkt denganmu. Seseorang yang mempunyai kepribadian yang baik, gentleman, dengan wajah yang rupawan, fisik yang sixpack sedang mendekatimu! Omg! Hard to resist!
Dan saya kira saya pun jatuh cinta padanya. Akan tetapi...
Thursday, December 22, 2011
The Change Up
Malam ini habis nonton "The Change Up", sebuah film yang mengisahkan dua orang pria yang bertukar kehidupan. Seorang pria berkeluarga dengan karir yang cemerlang dan tiga orang anak, bertukar kehidupan dengan seorang pria lajang yang kerjaannya hura-hura dan ala bujangan. Sebuah film komedi, tapi tiba-tiba rasanya hatiku sakit sekali selesai menonton film itu.Lho koq bisa?
Di film itu, beberapa pesan moralnya sangat menohok. Salah satunya adalah bagaimana perasaanmu mendengar jawaban yang jujur dari orang-orang yang Anda cintai di sekeliling Anda. Tentu saja semua orang di dunia ini tidak suka menyakiti perasaan orang lain dengan tidak mengatakan yang sebenarnya (paling tidak di hadapan orang tersebut). Namun bagaimana perasaan Anda mendengar kata-kata jujur mengenai diri Anda yang tidak akan pernah disampaikan secara jujur kepada Anda.
Terus terang, ketika saya menonton film itu, saya benar-benar dianalogikan seperti tokoh "Mitch" dalam film itu. Seorang pria lajang yang suka hura-hura, namun begitu iri dengan kehidupan sahabatnya Dave yang sukses dan memiliki keluarga yang bahagia.
Yap, saya masih melajang dan saya begitu iri dengan teman-teman saya yang rata-rata sudah punya pasangan.
Saat saya menulis ini, hati saya masih terus menuduh saya sebagai seorang "Mitch". Seseorang yang kelihatan begitu gembira, tapi di balik dirinya tersimpan kegetiran dan rasa kesepian. Seseorang yang dianggap sebagai seorang quitter atau pecundang. Seseorang yang tidak pernah menyelesaikan semuanya hingga akhir dan selalu berhenti di tengah jalan.
Sebuah rasa yang sangat tidak enak mendekam di dadaku. Di saat teman-teman saya yang lain sudah punya pasangan, pekerjaan yang sukses dan kehidupan yang mapan, saya masih saja begini-begini saja.
Ya Tuhan, kapankah nasib saya akan diubahkan? Kapankah kehidupan yang seperti mimpi buruk ini akan berakhir? Saya tidak ingin mendapatkan kehidupan orang lain, tapi saya ingin mengubah hidup saya menjadi lebih bermakna. Hari-hari ini begitu kesepian. Di balik keceriaan yang saya tunjukkan ada rasa menjadi pecundang, minder dan takut. Tapi saya tak pernah menunjukkannya.
Akankah hidup saya berakhir happy ending seperti Mitch?
Hello World
Welcome to Quitter Me. Sebuah blog yang berisikan curahan hati, keluh kesah dan hal-hal yang tidak bisa kuucapkan di dunia nyata. Sebuah blog yang lahir dari jeritan hati yang tak bisa tersampaikan, penyesalan yang datang kemudian dan kata-kata yang tidak bisa diucapkan.
Saya adalah saya. Pencurahan dalam sebuah blog adalah langkah terakhirku. Seseorang yang sangat kesepian, tidak mempunyai teman dan bahkan tidak ada orang yang mengerti saya. Dan dari sanalah lahir blog ini.
Saya tidak berharap blog ini dibaca. Hanya sebuah pelampiasan belaka.
Namun bila dibaca, silakan saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)



